This is a free and fully standards compliant Blogger template created by Templates Block. You can use it for your personal and commercial projects without any restrictions. The only stipulation to the use of this free template is that the links appearing in the footer remain intact. Beyond that, simply enjoy and have fun with it!

Wednesday, August 12, 2009

Tanggung jawab Orangtua dalam Pendidikan Anak

Anak adalah titipan Allah SWT bagi kita sebagai orangtua yang baik dan penuh tanggung jawab. Begitu menikah, pengen punya anak berapa?pasti ada yang pernah bertanya seperti itu, sesudah hamil, punya anak...ditanya lagi mau nambah lagi...?ayooo nambah lagi biar rame...mau anak 1 ato 2 ato 5 sama 'repot' nya...ayooo sekalian nambah...biar poooolll repotnya....sekalian cape nya...he he...emangnya kelinci...***cemberut***

Melahirkan...Alhamdulilah nikmat...mendidik anak itu yang luar biasa...karena tiap anak beda-beda tipe dan bakat...menurut saya loh...

Ada orangtua yang menunggu bertahun-tahun untuk mendapatkan anak, sampe ikut terapi, teman saya udah 9 tahun menikah belum dikarunia anak...mungkin belum dipercaya, bijak temen saya ini...padahal udah ikut terapi...belum rezekinya...tapi ada juga temen saya yang masih pake KB malah jebol...lho...?iiiih...jadi was-was...***hi hi hii..*** Tapi baca berita di koran Indo, ada aja orang tua yang aborsi ato malah buang bayi merah yang baru lahir...miris ga sih...kemana sih akal sehat mereka...?Subhanallah....

Ada yang pengen anak...ada yang ga mau anak...

Yuuuuks kita lihat...seperti apa sih tanggung jawab orangtua dalam mendidik anak, karena tugas orangtua tidak hanya melahirkan anak, tapi mendidik anak untuk menjadi manusia shaleh dan beriman adalah tugas yang amat mulia...semoga kita selalu diberi kesabaran dalam mendidik anak, karena mendidik anak jaman sekarang...hmmmm...Berikut artikelnya...saya petik dari milist by Andri Setiawan, jujur saja, hanya untuk instropeksi buat pribadi...

Tanggung Jawab Orang Tua dalam Pendidikan Anak
Oleh: Drs. Yakhsyallah Mansur


“Hai
orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api
neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat
yang kasar, yang keras yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang
diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang
diperintahkan.”(QS.At-Tahrim:6)

Dengan
ayat ini Allah Subhaanahu wa Ta’ala mengingatkan orang-orang yang
beriman, bahwa semata mata beriman saja belumlah cukup. Iman harus
dipelihara, dirawat dan dipupuk dengan cara menjaga keselamatan diri
dan seisi rumah tanga dari api neraka.



Ketika
menafsirkan ayat ini Al-‘Allamah Ibnu Katsir menukilkan penjelasan para
ahli tafsir baik dari generasi sahabat maupun tabi’in, sebagai berikut:
Ali Radhiallahu ‘anhu ketika menjelaskan kalimat “peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” berkata, “Didiklah mereka dan ajarlah mereka”. Ibnu
Abbas berkata, “Taatlah kepada Allah, jauhilah perbuatan maksiat dan
perintahkan keluargamu untuk selalu dzikir (ingat kepada Allah), maka
Allah akan menyelamatkanmu dari api neraka.” Qotadah berkata,
“Hendaknya engkau perintahkan keluargamu untuk mentaati Allah, engkau
larang mereka berbuat maksiat, engkau layani mereka dengan
ketentuan-ketentuan Allah dan engkau perintahkan serta engkau bantu
mereka untuk melaksanakan ketentuan-ketentuan Allah.
Apabila engkau
melihat mereka berbuat maksiat maka celalah dan hardiklah mereka.”
Adl-Dlahak dan Muqatil berkata, “Setiap orang Islam berkewajiban untuk
mengajar keluarganya baik kerabatnya maupun pembantunya tentang apa-apa
yang diwajibkan oleh Allah dari apa-apa yang dilarang-Nya.” Selanjutnya
Ibnu Katsir mengatakan bahwa makna ayat ini dijelaskan dalam sabda
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Perintahkanlah anak untuk shalat ketika telah mencapai umur tujuh tahun dan apabila mencapai umur

Menurut Sayyid Sabiq, memelihara diri dan keluarga termasuk anak dari neraka adalah dengan pendidikan dan
pengajaran, kemudian memperhatikan perkembangan mereka agar berakhlak
mulia dan menunjukkan kepada mereka hal-hal yang bermanfaat dan
membahagiakan. Dengan demikian jelaslah betapa pentingnya pendidikan
menurut Islam. Oleh karena itu siapa saja yang mendidik anak sesuai
dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya, ia akan mendapatkan pahala sedang
siapa saja yang tidak memberikan pendidikan anak sebagaimana mestinya,
ia akan mendapat siksa. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah
seseorang diantara kamu yang memiliki tiga anak perempuan atau tiga
saudara perempuan kemudian mendidik mereka dengan sebaik-baiknya
kecuali ia akan masuk surga.” (HR.At-Tirmidzy dari Abu Said Al-Hudri)

Imam
Al-Ghazali berkata, “Anak itu amanah Allah bagi kedua orangtuanya,
hatinya bersih bagaikan mutiara yang indah bersahaja, bersih dari
setiap lukisan dan gambar. Ia menerima setiap yang dilukiskan,
cenderung ke arah apa saja yang diarahkan kepadanya. Jika ia dibiasakan
belajar dengan baik ia akan tumbuh menjadi baik, beruntung di dunia dan
diakhirat. Kedua orangtuanya semua gurunya, pengajar dan pendidiknya
sama-sama mendapat pahala. Dan jika ia dibiasakan melakukan keburukan
dan diabaikan sebagaimana mengabaikan hewan, ia akan celaka dan rusak, dan dosanya menimpa pengasuh dan orang tuanya.” Pendidikan yang baik merupakan pemberian terbaik orangtua kepada anak, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Tidak ada pemberian orangtua kepada anak yang lebih utama daripada pendidikan yang baik.” (HR.At-Tirmidzy)

Di
samping itu pendidikan yang baik juga merupakan wujud kasih sayang
orang tua kepada anak, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits dari Abu Sulaiman, Malik bin Al Haris berkata, “Kami pernah mendatangi nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan
bermukim selama dua puluh malam. Beliau mengerti bahwa kami sangat
menyayangi keluarga kami sehingga beliau menanyakan apa yang kami
tinggalkan untuk keluarga kami. Kemudian kami menceritakan bahwa kami
tidak meninggalkan apa-apa, lalu dengan lemah-lembut dan penuh kasih
sayang beliau berkata, “Kembalilah kalian kepada keluarga kalian, ajarlah mereka dan perintahkanlah mereka shalat…” (HR. Al-Bukhari)

Adapun pendidikan yang harus diberikan oleh orangtua sebagai wujud tanggung jawab terhadap keluarga adalah:

1. Pendidikan Agama
Pendidikan
agama dan spiritual adalah pondasi utama bagi pendidikan keluarga.
Pendidikan agama ini meliputi pendidikan aqidah, mengenalkan hukum
halal-haram memerintahkan anak beribadah (shalat) sejak umur tujuh
tahun, mendidik anak untuk mencintai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam, keluarganya, orang-orang yang shalih dan mengajar anak membaca
Al-Qur’an. Al-Ghazali berkata, “Hendaklah anak kecil diajari Al-Qur’an
hadits dan sejarah orang-orang shalih kemudian hukum Islam.”

2. Pendidikan Akhlaq
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Diantara kewajiban bapak kepada anaknya ialah memperbagus budi pekertinya dan membaguskan namanya.” (HR.Baihaqi). Para ahli pendidikan Islam menyatakan bahwa pendidikan
akhlak adalah jiwa pendidikan Islam, sebab tujuan tertinggi pendidikan
Islam adalah mendidik jiwa dan akhlak.

3. Pendidikan Jasmani
Islam
memberi petunjuk kepada kita tentang pendidikan jasmani agar anak
tumbuh dan berkembang secara sehat dan bersemangat. Allah Ta’ala
berfirman: “Makanlah dan minumlah kamu tetapi jangan berlebih-lebihan, sesungguhnya Allah tidak senang kepada orang yang berlebih-lebihan.” (QS.Al-A’raf:31). Ayat ini sesuai dengan hasil penelitian para ahli
kesehatan bahwa agar tubuh sehat dan kuat, dianjurkan untuk tidak makan
dan minum secara berlebih-lebihan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:

“Ajarilah anak-anakmu berenang dan memanah. Sebaik-baik pengisi waktu bagi wanita beriman adalah memintal. Apabila kedua orang tuamu memanggilmu maka penuhilah panggilan ibumu.”(HR Ad-Dailami)

Diriwayatkan
bahwa setelah seluruh negeri Irak dibebaskan oleh shahabat Saad bin Abi
Waqqash, beliau membuat rencana (maket) pembangunan kota Kuffah.
Setelah maket itu diajukan kepada Khalifah Umar bin Al-Khattab beliau
sangat menyetujui. Hanya beliau tambah bahwa disamping mendirikan
masjid Jami’, hendaklah disediakan tanah lapangan tempat para pemuda
berolah raga, latihan perang seperti melempar tombak, memanah, bermain
pedang dan menunggang kuda. Di antara ucapan beliau yang terkenal ialah
“Ajarkanlah kepada anak-anak kamu berenang dan memanah, hendaklah
mereka dapat melompat ke punggung kuda sekali lompat”.

4. Pendidikan Akal
Yang dimaksud dengan
pendidikan akal adalah meningkatkan kemampuan intelektual anak, ilmu
alam, teknologi dan sains modern sehingga anak mampu menyesuaikan
dengan kemajuan ilmu pengetahuan dalam rangka menjalankan fungsinya
sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya, guna membangun dunia ini sesuai
dengan konsep yang ditetapkan Allah. Hal inilah yang diisyaratkan oleh
Allah dengan proses penciptaan nabi Adam AS dimana sebelum ia
diturunkan ke bumi, Allah mengajarkan nama-nama (asma) yang tidak
diajarkan kepada para malaikat. (QS. Al-Baqarah : 31)

5. Pendidikan Sosial
Yang
dimaksud dengan pendidikan sosial adalah pendidikan anak sejak dini
agar bergaul di tengah-tengah masyarakat dengan menerapkan
prinsip-prinsip syari’at Islam. Di antara
prinsip syari’at Islam yang sangat erat berkaiatan dengan pendidikan
sosial ini adalah prinsip ukhuwwah Islamiyah. Rasa ukhuwwah yang benar
akan melahirkan perasaan luhur dan sikap positif untuk saling menolong
dan tidak mementingkan diri sendiri. Islam telah menjadikan ukhuwwah
Islamiyah sebagai kewajiban yang sangat fundamental dan mengibaratkan
kasih sayang sesama muslim dengan sebatang tubuh, apabila salah satu
anggota badannya sakit, maka yang lain ikut merasakannya. Untuk
mewujudkan ukhuwah Islamiyah ini Islam telah menggariskan syari’at
Al-Jama’ah (QS.Ali Imran : 103). Oleh karena itu setiap orang tua harus
mengajarkan kehidupan berjama’ah kepada anak-anaknya sejak dini.

Seluruh
aspek pendidikan ini akan berjalan maksimal apabila orangtua dapat
dijadikan teladan bagi anak-anaknya di samping harus berusaha secara
maksimal agar setiap dia melakukan pekerjaan yang baik bagi keluarganya
dapat melakukan seperti yang dia lakukan. Hal inilah yang telah
dipraktekkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di
tengah-tengah keluarganya.

Diriwayatkan
oleh Muslim bahwa apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan
mengajarkan shalat witir (tahajud yang diakhiri dengan witir) beliau
membangunkan isterinya (Aisyah). “Bangunlah dan berwitirlah hai Aisyah”. Dalam riwayat lain beliau bersabda: “Allah merahmati seorang laki-laki yang bangun pada sebagian malam lalu dibangunkannya keluarganya. Kala
dia tidak mau bangun dipercikkannya air di mukanya. Dan Allah merahmati
seorang perempuan yang bangun pada sebagian malam lalu dibangunkannya
suaminya. Kalau dia tidak mau bangun dipercikkanya di mukanya.” (HR.An-Nasai)
Dengan keteladanan inilah orang tua akan
mempunyai pengaruh wibawa dan disegani di tengah-tengah keluarganya
sehingga terwujudlah keluarga sakinah yang dihiasi dengan dzurriyah thoyibah (keturunan yang baik dan berkualitas) yang menjadi dambaan semua manisia.
Wallohu a’lam bis shawwab.


No comments:

Post a Comment