This is a free and fully standards compliant Blogger template created by Templates Block. You can use it for your personal and commercial projects without any restrictions. The only stipulation to the use of this free template is that the links appearing in the footer remain intact. Beyond that, simply enjoy and have fun with it!

Tuesday, April 21, 2009

PENELITIAN TINDAKAN KELAS

PENERAPAN PENDEKATAN KONSTEKTUAL DALAM MENULIS DISKRIPSI SISWA SD

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah

Komunikasi merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Tanpa adanya komunikasi maka interaksi antar manusia tidak akan terjadi. Manusia akan nampak terlihat hidup sendiri. Hakikatnya manusia adalah makhluk sosial yang tidak pernah dapat hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Sehingga komunikasi harus ada untuk menunjang kelangsungan hidup manusia.

Bahasa merupakan hal yang sangat penting dalam komunikasi. Dua atau lebih manusia yang berkomunikasi menggunakan bahasa yang sama dapat membuat mereka memahami maksud dari penyampai pesan. Pesan yang disampaikan tersebut dapat berupa pengungkapan gagasan ataupun perasaan baik secara lisan maupun tertulis.

Bahasa yang digunakan oleh warga negara Indonesia adalah bahasa Indonesia. Hal ini tertera juga dalam sumpah pemuda yang menyatakan bahwa bahasa persatuan adalah bahasa Indonesia. Sekolah-sekolah menggunakan bahasa Indonesia sebagai salah satu mata pelajaran yang dianggap penting. Terbukti dalam pelaksanaan Ujian Nasional, mata pelajaran Bahasa Indonesia merupakan salah satu mata pelajaran yang diujikan.

Keterampilan berbahasa mencakup empat aspek yaitu keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca, dan keterampilan menulis. Keterampilan menulis dan membaca sebagai aktivitas komunikasi saling melengkapi antara satu dengan yang lain. Kebiasaan menulis tidak akan terlaksana tanpa adanya kebiasaan membaca.

Masa modern ini telah disadari betapa pentingnya penguasaan bahasa tulis. Kenyataan yang terjadi pengajaran menulis masih kurang mendapatkan perhatian. Sebagai contoh pengajaran mengarang yang merupakan salah satu aspek pengajaran bahasa Indonesia yang kurang ditangani secara serius. Hal tersebut mengakibatkan kurangnya keterampilan menulis pada.

Keterampilan menulis merupakan keterampilan yang sangat penting bagi siswa. Keterampilan menulis akan selalu digunakan oleh siswa dalam mengikuti pelajaran di berbagai jenjang dan jenis sekolah maupun dalam kehidupan di masyarakat. Keberhasilan kegiatan belajar mengajar sangat ditentukan oleh kemampuan siswa dalam menulis. Untuk itu keterampilan menulis siswa harus ditingkatkan, sesuai dengan pendapat Syafi’e (dalam STY Slamet, 2008:95) bahwa keterampilan menulis harus dikuasai oleh anak sedini mungkin dalam kehidupannya di sekolah.

Berdasarkan pertimbangan di atas, maka perlu dikembangkan suatu pembelajaran kontekstual. Pembelajaran kontekstual adalah suatu pembelajaran yang mengarahkan pemikiran kita pada pengalaman. Ketika gagasan-gagasan dialami, digunakan di dalam konteks, mereka memiliki makna (Elaine B.Johnson, 2009:46). Pembelajaran kontekstual ini adalah pembelajaran yang berangkat dari dunia nyata yang dibawa ke dalam kegiatan pembelajaran di sekolah. Hal ini sangatlah sesuai dengan pengajaran mengarang deskripsi yang harus mengungkapkan dengan bahasa tulis sesuatu dengan jelas.

Bedasarkan uraian di atas, maka direncanakan suatu penelitian kualitatif dengan judul : “Penerapan Pendekatan Konstektual dalam Menulis Diskripsi Siswa SD”

  1. Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian Latar Belakang Masalah di atas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :

1. Apakah penerapan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan kemampuan menulis deskripsi pada siswa SD?

2. Bagaimana cara mengatasi kendala-kendala yang terjadi dalam penerapan pendekatan kontekstual untuk meningkatkan kemampuan menulis deskripsi pada siswa kelas SD?


  1. Tujuan Penelitian

Berdasarkan masalah yang telah dirumuskan, tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah :

  1. Untuk mengetahui apakah penerapan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan kemampuan menulis deskripsi pada siswa.
  2. Untuk mengetahui cara mengatasi kendala-kendala yang terjadi dalam penerapan pendekatan kontekstual untuk meningkatkan kemampuan menulis deskripsi pada siswa SD.

  1. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan bermanfaat dalam pendidikan baik secara langsung maupun tidak langsung. Manfaat penelitian ini antara lain sebagai berikut :

1. Manfaat Praktis

a. Bagi siswa : Siswa dapat mengembangkan kegiatan belajar yang berangkat dari kenyataan dalam meningkatkan kemampuan menulis deskripsi.

b. Bagi guru : Guru mendapatkan reverensi baru berupa pembelajaran kontekstual sehingga dapat membuat siswanya lebih mudah untuk belajar menulis deskripsi.

c. Bagi lembaga : Dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan membuat kebijakan dalam rangka meningkatkan mutu proses pembelajaran, khususnya pada mata pelajaran Bahasa Indonesia.

2. Manfaat Teoretis

a. Sebagai bahan referensi penelitian selanjutnya.

b. Sebagai gambaran dan bahan pengembangan untuk menentukan langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam meningkatkan kemampuan menulis deskripsi.

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka

1. Tinjauan tentang Kemampuan Belajar

Di sini kemampuan belajar maknanya hampir sama dengan prestasi belajar, sehingga dapat dijelaskan tentang hakikat prestasi belajar.

a. Pengertian Belajar

Manusia adalah makhluk sosial, oleh karena itu manusia selalu mengadakan hubungan antara satu dengan yang lain. Setiap hubungan antara manusia pasti terjadi interaksi sosial dari kedua belah pihak yang terlibat dalam hubungan atau pergaulan. Pergaulan hidup dapat terjadi dalam berbagai situasi baik secara formal maupun nonformal. Kemudian proses antar manusia dengan lingkungan atau dengan fakta/konsep/teori, di mana segenap pancaindra turut bekerja sehingga membuahkan kematangan dan inilah yang disebut belajar.

Menurut Wittig (dalam Muhibbin Syah, 2003:65-66) mendefinisikan belajar sebagai : any relatively permanent change in an organism’s behavioral repertoire that occurs as aresult of experience ( belajar ialah perubahan yang relatif menetap yang terjadi dalam segala macam/keseluruhan tingkah laku suatu organisme sebagai hasil dari pengalaman.

Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan (Muhibbin Syah, 2003:63). Hal tersebut sesuai dengan pendapat Skiner yang menyatakan bahwa belajar adalah suatu proses adaptasi (penyesuaian tingkah laku) yang berlangsung secara progresif. Pendapat lain diungkapkan oleh Gagne yang menyatakan bahea belajar adalah kegiatan yang kompleks.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa belajar merupakan suatu aktivitas proses yang kompleks berdasarkan pada pengalaman untuk mengubah tingkah laku suatu organisme yang berlangsung secara progresif.

Belajar pengetahuan meliputi tiga fase. Fase-fase itu adalah : (1) fase eksplorasi, (2) fase pengenalan konsep, dan (3) fase aplikasi konsep (Dimyati dan Mudjiono, 2006:14).

b. Tujuan Belajar

Tujuan memiliki nilai yang sangat penting di dalam pengajaran. Dapat dikatakan bahwa tujuan merupakan faktor yang terpenting dalam kegiatan dan proses belajar mengajar (Oemar Hamalik, 2006:80)

Belajar merupakan proses internal yang kompleks. Yang terlibat dalam aktifitas internal tersebut adalah seluruh mental yang meliputi ranah-ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik (Dimyati dan Mudjiono, 2006:18).

Ranah kognitif menurut Bloom ada enam jenis perilaku yaitu : (1) pengetahuan, (2) pemahaman, (3) penerapan, (4) analisis, (5) sintesis,dan (6) evaluasi. Siswa yang belajar akan memperbaiki kemampuan internalnya dari kemampuan awal pada pra-belajar, meningkat memperolah kemampuan-kemampuan yang tergolong pada keenam jenis perilaku yang dididikkan di sekolah (Dimyati dan Mudjiono, 2006:27).

Ranah afektif menurut Krathwhl, Bloom, dkk terdiri dari lima perilaku yatu : (1) penerimaan, (2) kesiapan, (3) penilaian, (4) organisasi,dan (5) pembentukan pola hidup. Siswa yang belajar akan memperbaiki kemampuan-kemampuan internalnya yang afektif. Siswa mempelajari kepekaan tentang sesuatu hal sampai pada penghayatan nilai sehingga menjadi suatu pegangan hidup (Dimyati dan Mudjiono, 2006:29).

Ranah psikomotorik menurut Simpson terdiri dari tujuh jenis perilaku sebagai berikut : (1) persepsi, (2) kesiapan, (3) gerakan terbimbing, (4) gerakan yang terbiasa, (5) gerakan kompleks, (6) penyesuaian pola gerakan, (7) kreatifitas. Belajar berbagai kemampuan gerak dapat dimulai dengan kepekaan memilah-milah sampai pada kreatifitas pola gerak baru (Dimyati dan Mudjiono, 2006:32).

Sedangkan tujuan belajar yang lainnya adalah :

a) Belajar mengadakan perubahan di dalam diri antara lain tingkah laku

b) Belajar bertujuan mengubah kebiasaan dari yang buruk menjadi baik

c) Belajar bertujuan untuk mengubah sikap, dari negative menjadi positif

d) Belajar bertujuan untuk mengubah keterampilan

e) Belajar bertujuan menambah pengetahuan dalam berbagai bidang ilmu. (Dalyono, 2005:49)

Dari berbagai pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan belajar adalah mengubah tingkah laku berbagai ranah (kognitif, afektif, Psikomotorik) menjadi lebih baik.

c. Prestasi Belajar

Prinsis pokok dalam prestasi belajar adalah adanya perhatian dan motifasi, keaktifan, keterlibatan langsung, pengulangan, tantangan, balikan dan penguatan serta perbedaan individual (Dimyati dan Mudjiono, 2006:76). Prestasi belajar yang dicapai oleh seorang individu merupakan hasil dari interaksi berbagai faktor yang mempengaruhi belajar. Faktor-faktor tersebut adalah faktor internal (faktor dari dalam), faktor eksternal (faktor dari luar), dan faktor pendekatan belajar (Muhibbin Syah, 2003:144).

Bukti sesorang belajar adalah adanya perubahan tingkah laku pada orang tersebut. Tingkah laku memiliki unsur subjektif dan unsur motoris (Oemar Hamalik, 2006:30). Unsur subjektif adalah unsur rohaniah sedangkan unsur motoris adalah unsur jasmaniah. Hal tersebut menunjukkan bahwa seseorang yang sedang berfikir akan terlihat dari raut mukanya sedangkan secara rohaniah tidak dapat dilihat.

Hasil belajar adalah kemampuan yang diperolah anak setelah melalui kegiatan belajar (Mulyono Abdurrahman, 2003:37). Jadi hasil belajar hanya akan diperoleh setelah siswa melaksanakan proses belajar.

Hasil belajar akan tampak pada setiap perubahan aspek-aspek berikut : (1) pengetahuan (2) pengertian (3) kebiasaan (4) keterampilan (5) apresiasi (6) emosional (7) hubungan sosial (8) jasmani (9) etis atau budi pekerti (10) sikap (Oemar Hamalik, 2003:30).

Dari uraian tentang prestasi belajar di atas dapat diambil suatu kesimpulan bahwa prestasi belajar adalah hasil dari proses belajar yang berupa perubahan tingkah laku baik berupa pola perbuatan, nilai, pengertian, sikap, maupun keterampilan yang bersifat kompleks dan adaptable yang lambat laun akan dipersatukan menjadi kepribadian dengan kecepatan yang berbeda-beda antar individu.

2. Tinjauan tentang Menulis Deskripsi

a. Pengertian Menulis

Menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang dipergunakan secara tidak langsung. Maksudnya antara penyampai pesan dengan penerima pesan tidak saling bertatap muka. Hal ini sesuai dengan pendapat yang mengungkapkan bahwa menulis adalah mengungkapkan gagasan secara tertulis (Sabarti Akhadiah,dkk. 1993:81). Pendapat lain dikemukakan oleh Suparno dan M.Yunus (dalam STY Slamet, 2008:96) mengatakan bahwa menulis adalah suatu kegiatan menyampaikan pesan (komunikasi) dengan menggunakan bahasa tulis sebagai medianya. Menulis dapat dipandang sebagai rangkaian aktivitas yang bersifat fleksibel (Ahmad R dan Darmiyati Z, 2001:51). Aktivitas yang dimaksud adalah pra-menulis, penulisan draft, revisi, penyuntingan, dan publikasi atau pembahasan.

Menulis merupakan salah satu komponen sistem komunikasi (Muyono Abdurrahman, 2003:224). Menunjukkan bahwa menulis sangat penting dalam komunikasi terutama bagi siswa untuk menyalin, mencatan ataupun menyelesaikan tugas.

Menulis adalah menggambarkan pikiran, perasaan, dan ide-ide ke dalam bentuk lambang-lambang bahasa grafis (Mulyono Abdurrahman, 2003:224). Hal ini senada dengan pendapat H.G Tarigan yang dikutip oleh STY Slamet (2008:99) menulis pada hakikatnya adalah melukiskan lambang-lambang grafis yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang untuk dibaca orang lain yang dapat memahami bahasa dan lambang-lambang grafis.

Secara lebih jelas hakikat menulis (STY Slamet, 2008:99) bukan hanya sekedar melukiskan lambang-lambang grafis melainkan menuangkan buah pikiran ke dalam bahasa tulis melalui kalimat-kalimat yang dirangkai secara utuh, lengkap dan jelas, sehingga tulisan tersebut dapat dikomunikasikan kepada pembaca secara berhasil.

Dari berbagai pendapat tentang menulis dapat disimpulkan bahwa menulis adalah sautu rangkaian aktivitas yang bersifat fleksibel untuk menyampaikan pesan berupa gambaran pikiran, perasaan, dan d eke dalam bentuk lambang-lambang bahasa yang dapat dipahami oleh penyampai dan penerima pesan.

b. Tahap – Tahap Menulis

Tahap-tahap menulis secara sederhana terdiri atas tiga tahap yaitu prapenulisan, tahap penulisan, dan tahap revisi (Sabarti Akhadiah, dkk, 1992:104). Sedangkan tahap-tahap menulis menurut Weaver (dalam STY Slamet, 2008:111) dan Ahmad R dan Darmiyati Z (2001:51) terdiri dari lima tahap yang diuraikan sebagai berikut :

1) Prapenulisan (Prewriting)

Pada tahap ini merupakan langkah awal dalam menulis yang mencakup kegiatan (1) menentukan dan membatasi topik tulisan (2) merumuskan tujuan, menentukan bentuk tulisan, dan menentukan pembaca yang akan dituju (3) memilih bahan (4) menentukan generalisasi dan cara-cara mengorganisasi ide untuk tulisannya.

2) Pembuatan Draft (Drafting)

Pada tahap ini dimulai dengan menjabarkan ide ke dalam bentuk tulisan. Para siswa mula-mula mengembangkan ide atau perasaannya dalam bentuk kata-kata, kalimat-kalimat sehingga menjadi sebuah wacana sementara (draft). Pada tahap ini siswa dapat mengubah keputusan-keputusan yang telah dibuat pada tahap sebelumnya antara lain yang berkaitan dengan masalah tujuan, pembaca yang dituju bahkan pada bentuk tulisan yang telah ditentukan.

3) Perevisisan (Revising)

Pada tahap merevisi dilakukan koreksi terhadap keseluruhan karangan. Koreksi dilakukan terhadap berbagai aspek, misalnya struktur karangan dan kebahasaan. Tahap revisi dalam pengajaran menulis, siswa dapat memeriksa rancangan tulisannya dalam segi isi untuk langkah perbaikan.

4) Pengeditan/Penyuntingan (Editing)

Hasil tulisan/karangan perlu dilakukan pengeditan (penyuntingan). Hal ini berarti siswa sudah hampir menghasilkan sebuah bentuk tulisan final. Pada tahap ini perhatian difokuskan pada aspek mekanis bahasa sehingga siswa dapat memperbaiki tulisannya dengan membetulkan kesalahan penulisan kata maupun kesalahan mekanis lainnya.

5) Pemublikasian (Publishing/Sharing)

Publikasi mempunyai dua pengertian. Pengertian pertama publikasi berarti menyampaikan karangan kepada public dalam bentuk cetakan, sedangkan pengertian kedua adalah menyampaikan dalam bentuk noncetakan. Penyampaian noncetakan dapat berupa pementasan, penceritaan, peragaan, dan pembacaan.

c. Wacana Deskripsi

Istilah dekripsi diambil dari bahasa Inggris describtion yang berhubungan dengan kata kerja to describe yang artinya melukiskan dengan bahasa. Pengertian lugas tentang deskripsi adalah uraian atau lukisan.

Deskripsi adalah sebuah wacana yang berusaha menggambarkan sesuatu sejelas mungkin (Sabarti Akhadiah, dkk.1993:97). Karangan deskripsi dapat digunakan seseorang untuk menggambarkan sejelas mungkin suatu objek yang diamati. Karangan deskripsi melukiskan suatu objek dengan kata-kata (Ahmad R dan Darmiyati Z, 2001:117).

STY Slamet (2008:103) mengemukakan bahwa deskripsi (pemerian) adalah ragam wacana yang melukiskan atau menggambarkan sesuatu berdasarkan kesan-kesan dari pengamatan, pengalaman, dan perasaan dari penulisnya. Sasaran yang dituju adalah menciptakan atau memungkinkan terciptanya daya imajinasi (daya khayal) pembaca sehingga dia seolah-olah melihat, mengalami, dan merasakan sendiri apa yang dialami oleh pembuat wacana. Seseorang berusaha memindahkan kesan-kesan hasil pengamatan dan perasaannya kepada pembaca dengan membeberkan sifat dan semua perincian yang ada pada sebuah objek ke dalam wacana deskripsi.

Dari berbagai pendapat di atas dapat diambil suatu kesimpulan bahwa wacana deskripsi adalah lukisan atau gambaran dari hasil pengamatan dengan tujuan mengajak orang lain untuk menyelami hal yang digambarkan sehingga seolah-olah bersama-sama mengalami atau melihat hal yang digambarkan tersebut.

d. Menulis Deskripsi

Menulis prosa deskripsi tentu juga dimulai dengan pengamatan. Hasil pengamatan ini dilukiskan dengan kata-kata sehingga pembaca seolah-olah juga melihat, merasakan, mendengar, dan sebagainya (Sabarti Akhadiah, dkk. 1992:73). Siswa yang menulis deskripsi diusahakan seluruh pancaindranya aktif dan hasilnya juga dapat merangsang pancaindra pembaca.

Dikatakan bahwa menulis deskripsi adalah suatu aktivitas mengungkapkan ide atau perasaan berupa lukiskan suatu objek dalam bentuk tulisan yang bertujuan mengajak pembaca ikut melihat dan merasakan apa yang diungkapkan oleh penulis.

    1. Tinjauan tentang Pendekatan Kontekstual

a. Pengertian Pendekatan Kontekstual

Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka (Wina Sanjaya, 2007 : 253). Pendekatan kontekstual mendorong peran aktif siswa dalam pembelajaran, sehingga siswa dapat belajar efektif dan bermakna.

Suatu proses belajar mengajar dikatakan bermakna jika siswa dapat mengaitkan pelajaran yang didapatnya dengan kehidupan nyata yang mereka alami. Pembelajaran dan pengajaran kontekstual sebagai sebuah sistem mengajar didasarkan pada pikiran bahwa makna muncul dari hubungan antara isi dan konteksnya (Elaine B Johnson 2009 : 34). Konteks memberikan makna pada isi. Semakin banyak keterkaitan yang ditemukan siswa dalam suatu konteks yang luas, semakin bermaknalah isinya bagi mereka.

Strategi pembelajaran konstektual atau Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan strategi yang melibatkan siswa secara penuh dalam proses pembelajaran (Wina Sanjaya, 2007 : 253). Siswa didorong untuk mempelajari materi pelajaran sesuai dengan topik yang akan dipelajarinya. Di sini guru bukan sebagai penyampai bahan belajar melainkan sebagai pembimbing apabila siswa mengalami kesulitan saja.

Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual menuntut siswa yang belajar untuk aktif dan kreatif. Belajar dalam konteks CTL bukan hanya sekedar mendengarkan dan mencatat, tetapi belajar adalah proses berpengalaman secara langsung (Wina Sanjaya, 2007 : 253). Melalui proses berpengalam itu diharapkan perkembangan siswa terjadi secara utuh, yang tidak hanya berkenbang dalam aspek kognitif saja, tetapi juga aspek afektif dan psikiomotorik.

Pendekatan Kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL), merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga masyarakat (http: ipotes.wordpress.com / 2009/04/23/pendekatan kontekstual ).

Dari berbagai pengertian di atas maka dapat diambil suatu kesimpulan bahwa strategi atau pendekatan kontekstual merupakan strategi pembelajaran yang membawa situasi dunia nyata ke dalam pembelajaran di kelas sehingga belajar akan lebih mudah dan menyenangkan selain itu belajar akan lebih bermakna.

Proses pembelajaran kontekstual memungkinkan terjadinya lima bentuk belajar yang penting, yaitu :

1). Mengaitkan (relating)

Adalah strategi yang paling hebat dan merupakan inti konstruktivisme. Guru menggunakan strategi ini ketika ia mengkaitkan konsep baru dengan sesuatu yang sudah dikenal siswa. Jadi dengan demikian, mengaitkan apa yang sudah diketahui siswa dengan informasi baru.

2). Mengalami (experiencing)

Merupakan inti belajar kontekstual dimana mengaitkan berarti menghubungkan informasi baru dengan pengalaman maupun pengetahuan sebelumnya. Belajar dapat terjadi lebih cepat ketika siswa dapat memanipulasi peralatan dan bahan serta melakukan bentuk-bentuk penelitian yang aktif.

3). Menerapkan (applying)

Siswa menerapkan suatu konsep ketika ia melakukan kegiatan pemecahan masalah. Guru dapat memotivasi siswa dengan memberikan latihan yang realistis dan relevan.

4). Bekerjasama (cooperating)

Siswa yang bekerja secara individu sering tidak membantu kemajuan yang signifikan. Sebaliknya, siswa yang yang bekerja secara kelompok sering dapat mengatasi masalah yang komplek dengan sedikit bantuan. Pengalaman kerjasama tidak hanya membantu siswa mempelajari bahan ajar, tetapi konsisten dengan dunia nyata.

5). Mentransfer (transfering)

Peran guru membuat bermacam-macam pengalaman belajar dengan fokus pada pemahaman bukan hafalan.

b. Ciri-Ciri Pendekatan Kontekstual

Menurut Blanchard, ciri-ciri kontekstual :

1). Menekanakan pada pentingnya pemecahan masalah

2). Kegiatan belajar dilakukan dalam berbagai konteks

3). Kegiatan belajar dipantau dan diarahkan agar siswa dapat belajar mandiri

4). Mendorong siswa untuk belajar dengan temannya dalam kelompok atau secara mandiri.

5). Pelajaran menekankan pada konteks kehidupan siswa yang berbeda-beda

6). Menggunakan penilalian otentik

(http: ipotes.wordpress.com / 2009/04/23/pendekatan kontekstual )

c. Komponen-Komponen CTL

Menurut Wina Sanjaya (2007:262) CTL sebagai suatu pendekatan pembelajaran memiliki tujuh asas. Asas-asas ini yang melandasi pelaksanaan proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan CTL. Sering kali asas-asas ini disebut juga komponen-komponen CTL. Selanjutnya ketujuh asas dijelaskan di bawah ini :

1). Konstruktivisme (constructivism)

Merupakan landasan berpikir CTL. Kontruktivisme adalah proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif sisw berdasarkan pengalaman, yang menekankan bahwa belajar tidak hanya sekedar menghafal, mengingat pengetahuan tetapi merupakan suatu proses belajar mengajar dimana siswa sendiri aktif secara mental membangun pengetahuannya, yang dilandasi oleh struktur pengetahuan yang dimilikinya.

2). Menemukan (Inquiry)

Menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan kontekstual, karena pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta tetapi hasil dari menemukan sendiri. Kegiatan menemukan (inquiry) merupakan sebuah siklus yang terdiri dari perumusan masalah, mengajukan hipotesis, mengumpulkan data, menguji hipotesis berdasarkan data yang ditemukan dan yang terakhir membuat kesimpulan.

3). Bertanya (Questioning)

Pengetahuan yang dimiliki seseorang selalu dimulai dari bertanya dan menjawab pertanyaan. Bertanya dipandang sebagai refleksi dari keingintahuan setiap individu, sedangkan menjawab pertanyaan mencerminkan kemampuan seseorang dalam berfikir. Kegiatan bertanya berguna untuk :

a). Menggali informasi

b). Menggali pemahaman siswa

c). Membangkitkan respon kepada siswa

d). Mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa

e). Mengetahui hal-hal yang sudah siketahui siswa

f). Menfokuskan perhatian pada sesuatu yang dikehendaki guru

g). Membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa, untuk menyegarkan kambali pengetahuan siswa.

4). Masyarakat Belajar (Learning Community)

Konsep masyarakat belajar menyarankan hasil pembelajaran diperoleh dari hasil kerjasama dari orang lain. Hasil belajar diperoleh dari “sharing” antar teman, antar kelompok, dan antar yang tahu ke yang belum tahu. Masyarakat belajar terjadi apabila ada komunikasi dua arah, dua kelompok atau lebih yang terlibat dalam komunikasi pembelajaran saling belajar.

5). Pemodelan (Modeling)

Pemodelan pada dasrnya membahasakan yang dipikirkan, mendemonstrasi bagaimana guru menginginkan siswanya melakukan apa yang guru inginkan agar siswanya melakukan. Dalam pembelajaran kontekstual, guru bukan satu-satunya model. Model dapat dirancang dengan melibatkan siswa dan juga mendatangkan dari luar.

6). Refleksi (Reflection)

Refleksi adalah proses pengendapan pengalaman yang dilakukan dengan cara mengurutkan kembali kejadian-kejadian atau peristiwa pembelajaran yang telah dilaluinya. Refleksi merupakan cara berfikir atau respon tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir kebelakang tentang apa yang sudah dilakukan dimasa lalu. Realisasinya dalam pembelajaran, guru menyisakan waktu sejenak agar siswa melakukan refleksi yang berupa pernyataan langsung tentang apa yang diperoleh hari itu.

7). Penilaian Sebenarnya (Authentic Assessment)

Penilaian adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberi gambaran mengenai perkembangan belajar siswa. Dalam pembelajaran berbasis CTL, gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami pembelajaran yang benar. Fokus penilaian adalah pada penyelesaian tugas yang relevan dan kontekstual serta penilaian dilakukan terhadap proses maupun hasil.

d. Kelebihan dan Kelemahan Pembelajaran Kontekstual

1). Kelebihan Pembelajaran Kontekstual ( CTL)

Kelebihan CTL dapat membawa dunia peserta didik sebagai media pembelajaran di kelas, dengan membawa mereka ke dunia pengajaran, peserta didik tanpa merasa dipaksa dalam belajar. Penerapan CTL seperti layaknya Quantum Learning.

(http: ipotes.wordpress.com / 2009/04/23/pendekatan kontekstual )

2). Kelemahan Pembelajaran Kontekstual ( CTL )

Meskipun pembelajaran kontekstual banyak sekali kelebihannya namun pembelajan ini juga memiliki kelemahan, antara lain :

a). Ketidaksiapan pesrta didk untuk berbaur

b). Kondisi kelas atau sekolah yang tidak menunjang pembelajaran.

(http: ipotes.wordpress.com / 2009/04/23/pendekatan kontekstual )

B. Kerangka Berfikir

Kemampuan menulis pada siswa dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain : perbendaharaan kata, pengalaman, minat dan bakat. Selain itu metode mengajar juga menentukan kemampuan menulis siswa.

Faktor pemilihan pendekatan pengajaran melalui metode mengajar turut menentukan keberhasilan belajar menulis deskripsi. Dengan penggunaan metode belajar yang tepat maka minat siswa dalam menulis deskripsi akan tinggi sehingga kemampuan menulis deskripsi siswa akan meningkat.

Penggunaan pendekatan kontekstual mendorong siswa untuk mengerti apa makna belajar, apa manfaatnya, mereka dalam status apa, dan bagaimana mencapainya, sehingga yang mereka pelajari dapat melekat dalam ingatan untuk meningkatkan kemampuan menulis deskripsi.

Kerangka berfikir dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut :


Bagan Kerangka Berfikir


BAB III

METODE PENELITIAN

A. Setting Penelitian

1. Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Sekolah Dasar Negeri Girimargo 3 kecamatan Miri kabupaten Sragen. Sekolah Dasar ini berada di suatu desa yang bernama Girimargo. Daerah ini masih termasuk daerah pedesaaan yang tidak begitu padat penduduk sehingga siswanya pun tidak begitu banyak. Pemilihan tempat tersebut didasarkan pada pertimbangan :

1. Peneliti merupakan pendidik (guru) di sekolah tersebut

2. Kemampuan menulis deskripsi siswa masih sangat kurang

3. Peneliti sudah memahami karakteristik siswa yang akan diteliti

Bangunan sekolah ini terdiri dari enam ruang kelas, satu ruang guru yang menjadi satu dengan ruang kepala sekolah, selain itu juga ada ruang UKS. Halaman sekolah ini cukup luas dan biasa digunakan untuk upacara.

Ruang kelas yang terdiri dari enam ruangan ini cukup luas untuk proses belajar mengajar para siswa dan kondisinya masih cukup baik.

Siswa yang belajar di sekolah ini berasal dari masyarakat sekitar sekolah tersebut. Masyarakat belum begitu sadar akan pentingnya pendidikan anaknya. Sering kali siswa sangat kurang mendapatkan bimbingan belajar selain di sekolah. Orang tua pun di rumah kurang memperhatikan kebutuhan peralatan sekolah anak-anaknya yang dikarenakan faktor perekonomian keluarga yang masih kurang mencukupi.

2. Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada semester II (Genap) Tahun ajaran 2008/2009. Lebih tepatnya bulan Maret sampai dengan bulan Mei 2009. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada jadwal berikut ini :

No

Kegiatan Penelitian

Bulan

Maret

April

Mei

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

1.

Penulisan Proposal

2

Perijinan

3.

Pengumpulan data

4.

Analisis data

5.

Penyusunan Laporan

B. Bentuk dan Strategi Penelitian

Bentuk dan strategi penelitain kualitatif ini pada awalnya yaitu : Guru belum menggunakan pendekatan kontekstual dalam proses belajar mengajar. Untuk mengetahui sejauh mana kemampuan siswa dalam menulis diskripsi. Hal ini digunakan untuk mengetahui hasil akhir. Apakah setelah guru menggunakan pendekatan kontekstual dalam proses belajar mengajar tentang menulis diskripsi mendapatkan hasil yang bagus atau jelek. Atau bahkan lebih bagus yang tiadak menggunakan pendekatan kontekstual dalam proses belajar mengajar.

C. Sumber Data

Data atau informasi yang dikumpulkan dan dikaji dalam penelitian ini, berupa data kualitatif. Data atau informasi tersebut meliputi :

1. Informan, yaitu siswa SD Negeri Girimargo 3 kecamatan Miri kabupaten Sragen tahun pelajaran 2008/2009..

2. Tempat dan Peristiwa

a. Tempat : SD Negeri Girimargo 3 kecamatan Miri kabupaten Sragen

b. Peristiwa : Kegiatan Belajar Mengajar melalui pendekatan Kontekstual

3. Arsip dan Dokumen

a. Arsip : Kurikulum dan Silabus 2006 Mata Pelajaran Bahasa Indonesia

b. Dokumen : Daftar Nilai digunakan untuk mendapatkan data nilai siswa sebelum dilakukan tindakan

4. Tes Hasil Belajar

Untuk mengetahui peningkatan kemampuan menulis deskripsi dengan menggunakan pendekatan konstektual.

D. Teknik Sampling

Penggunaan pendekatan kontekstual diharapkan dapat meningkatkan kemampuan menulis deskripsi siswa SD Negeri Girimargo 3. Hal ini ditandai dengan siswa yang mencapai KKM (nilai 65 keatas) lebih dari 75%. Dapat dikatakan bahwa Penggunaan pendekatan kontekstual dalam menulis diskripisi di SD sangat cocok diterapkan. Hal ini dapat dilihat perubahan siswa dalam menulis diskripsi dengan menggunakann pendekatan konstektual dan dengan metode yang lain. Dan dapat dilhat hasilnya lebih bagus dengan menggunakan pendekatan konstektual. Dapat dilihat dari data berikut : sebelum menggunakan pendekatan konstektual dalam pembelajaran menulis diskriptif hanya 35 % siswa yang bisa mencapai nilai KKM (nilai 65 keatas). Tetapi setelah menggunakan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran menulis diskriptif kemampuan siswa meningkat yang berawal dari 35 % siswa yang mencapai KKM kini dengan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran menulis diskriptif hasilnya meningkat mencapai 75% siswa.

E. Teknik Pengumpulan Data

Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data di atas meliputi observasi, kajian dokumen, dan tes yang masing-masing diuraikan berikut ini :

1. Observasi

Observasi yang dilakukan adalah observasi langsung. Observasi langsung (direct observation) adalah observasi yang dilakukan tanpa perantara (secara langsung) terhadap objek yang diteliti. Observasi dilakukan pada siswa SD Negeri Girimargo 3 untuk mengetahui minat dan perhatiannya selama proses pembelajaran berlangsung dengan menggunakan pendekatan kontekstual.

2. Kajian dokumen

Kajian dilakukan pula pada arsip atau dokumen yang ada. Dokumen tersebut antara lain Kurikulum, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, hasil tulisan deskripsi siswa, dan daftar nilai yang diberikan kepada siswa.

3. Tes

Pemberian tes dimaksudkan untuk mengukur seberapa jauh kemampuan yang diperoleh siswa setelah kegiatan pembelajaran tindakan. Tes menulis deskripsi diberikan pada awal penelitian untuk mengidentifikasi kekurangan atau kelemahan siswa dalam menulis deskripsi. Selain itu tes ini dilakukan di akhir penelitian untuk mengetahui peningkatan mutu hasil tulisan deskripsi siswa. Dengan kata lain tes disusun dan dilakukan untuk mengetahui tingkat perkembangan kemampuan menulis deskripsi siswa.

F. Validitas Data

Informasi yang telah dikumpulkan oleh peneliti dan dijadikan data dalam penelitian harus siperiksa validitasnya sehingga data tersebut dapat dipertanggungjawabkan. Selain itu data tersebut dapat dijadikan dasar yang kuat dalam menarik kesimpulan. Adapun teknik yang digunakan dalam memeriksa validitas data dalam penelitian ini adalah dengan triangulasi data.

Triangulasi data adalah teknik pemeriksaan validitas data dengan memanfaatkan data diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau pembandingan data itu (Lexi J.Meleong dalam Sarwiji Suwandi 2008:69). Triangulasi data dilakukan dengan memanfaatkan jenis sumber data yang berbeda-beda untuk menggali data yang sejenis.


G. Teknik Analisis Data

Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah model analisis Interaktif Miles & Huberman. Model analisis interaktif , mempunyai tiga buah komponen pokok yaitu Reduksi data, Sajian Data, Penarikan kesimpulan atau verifikasi. Aktivitasnya dilakukan dalam bentuk interaktif dengan proses pengumpulan data sebagai proses siklus.

Untuk lebih jelasnya, proses analisis interaktis dapat digambarkan dengan skema sebagai berikut :




Gambar Model Analisis Interaktif

Langkah-Langkah Analisis :

1. Melakukan analisis awal bila data yang didapat di kelas sudah cukup, maka dapat dikumpulkan.

2. Mengembangkan bentuk sajian data, dengan menyusun coding dan matrik yang berguna untuk penelitian lanjut.

3. Melakukan analisis data di kelas dan mengembangkan matrik antar kasus

4. Melakukan verifikasi, pengayaan dan pendalaman data apabila dalam persiapan analisis ternyata ditemukan data yang kurang lengkap atau kurang jelas, maka perlu dilakukan pengumpulan data lagi secara terfokus.

5. Melakukan analisis antarkasus, dikembangkan struktur sajian datanya bagi laporan susunan laporan

6. Merumuskan simpulan akhir sebagai temuan penelitian

7. Merumuskan implikasi kebijakan sebagai bagian dari pengembangan saran dalam laporan akhir penelitian

H. Prosedur Penelitian

Secara umum langkah-langkah operasional yang akan dilakukan peneliti meliputi tahap-tahap sebagai berikut :

1. Tahap Persiapan

Tes menulis deskripsi untuk mendapatkan keadaan awal

2. Tahap Perencanaan

Penyusunan rencana pembelajaran dengan pendekatan kontekstual yang digunakan dalam tindakan

3. Tahap Pelaksanaan / Tindakan

Penerapan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran menulis deskripsi

4. Tahap Observasi dan Evaluasi

Peneliti bertugas sebagai pengamat KBM melakukan observasi terhadap aktivitas siswa. Dilaksanakan juga tes menulis deskripsi sebagai evaluasi.

5. Tahap Analisis dan Refleksi

Pada tahap ini dilakukan analisis pelaksanaan proses KBM dan hasil menulis deskripsi siswa. Data yang diperoleh selanjutnya dijadikan sebagai bahan refleksi untuk perbaikan model pembelajaran selanjutnya.

6. Tahap Tindak Lanjut

Penyusunan rencana pembelajaran, tindakan, observasi dan evaluasi, serta analisis dan refleksi

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman, Mulyono. 2003. Pendidikan Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Akhadiah, Sabarti dkk. 1992. Bahasa Indonesia 1. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

___________________. 1993. Bahasa Indonesia 2. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

___________________. 1993. Bahasa Indonesia 3. Jakarta : Departemen Pendidikan dan kebudayaan.

Arikunto, Suharsimi. 1993. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara.

B Johnson, Elaire. 2009. Contextual Teaching and Learning : Menjadikan Kegiatan Belajar Mengajar Mengasyikkan dan Bermakna (terjemahan). Bandung : MLC.

Dimyati & Mulyono. 2003. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Bumi Aksara.

Hamalik, Oemar. 2006. Proses Belajar Mengajar. Jakarta : Bumi Aksara.

http: ipotes.wordpress.com /2009/04/23/ Pendekatan Kontekstual atau Contextual Teaching and Learning.

Mulyani Sumanto. 1990. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Depdikbud

. 2004. Strategi Belajar Mengajar. Surakarta : FKIP UNS

Narbuko, Cholid & Acmadi, Abu. 1997. Metodologi Penelitian. Jakarta : Bumi Aksara.

Rofi’uddin, Ahmad dkk. 2002. Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Tinggi. Malang : Universitas Negeri Malang.

Sanjaya, Wina. 2007. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta : Kencana.

STY Slamet. 2008. Dasar-Dasar Keterampilan Berbahasa Indonesia. Surakarta : UNS Pres.


DAFTAR ISI

BAB I. PENDAHULUAN.......................................................................................... 1

A. Latar Belakang Masalah................................................................................... 1

B. Perumusan Masalah......................................................................................... 2

C. Tujuan Penelitian.............................................................................................. 3

D. Manfaat Penelitian............................................................................................ 3

BAB II. LANDASAN TEORI ................................................................................... 4

A. Kajian Teori.................................................................................................... 5

B. Kerangka Berfikir............................................................................................ 16

BAB III. METODE PENELITIAN............................................................................. 18

A. Setting Penelitian............................................................................................. 18

B. Bentuk dan Srrategi Penelitian ......................................................................... 19

C. Sumber Data................................................................................................... 19

D. Teknik Sampling ............................................................................................. 20

E. Teknik Pemgumpulan Data............................................................................... 21

F. Validitas Data.................................................................................................. 21

G. Teknik Analisis Data ....................................................................................... 22

H. Prosedur Penelitian.......................................................................................... 23

DAFTAR PUSTAKA................................................................................................. 24

i

1 comment: